Minggu, 05 September 2010

Pelayaranku menuju timur, hari terasa lebih singkat, nyiur masih berdada ria dibelakang, salamnya masih terngiang ditelingaku. Menjadi suplai tenaga untukku mengayuh. Langit semakin menguning. Hingga akhirnya sembunyi dibelakang pohon kelapa. Tak apa,memang sudah saatnya beliau berbagi. Lagi pula angin tak begitu galak. Memang waktunya untuk mencoba lagi mengukur dalamnya lautan ini, harapan para pelaut di bulan muda bukan meminta purnama datang diawal malam hingga memandangnya hingga pagi datang. Tapi langit cerah tanpa awam yang menggantung.

Kecipak kecipuk suara ombak belai sampanku,semilir angin membaur dengan hitam,aku terbaring di bawah kerlipan bintang,baringkan raga yang ternyata terjunjung oleh lautan,asinya,juga penghuninya,kukira kebetulan,ternyata ini pelayaranku.Mataku diantara terbuka dan mimpi2 yang dibumbui letih mengayuh.Membaur, bak angin pada siang ataupun malam.
Bening terkadang hitam dan bersela kuning atau kelabu.